MENYOAL SAMPAH DI PANTAI KUTA BALI

Posted on April 8, 2011

2


Pemerintah kota Bali dan khususnya dunia pariwisata Indonesi, cukup di buat kalang kabut dengan adanya pemberitaan oleh Majalah Times yang menyatakan Bali sabagai sebuah wisata Neraka. Hal ini dikarenakan adanya penumpukan sampah yang cukup banyak di sepanjang pantai Kuta yang sudah sangat meresahkan kita semua.

Sentilan dari Times ini tentu saja membuat kita semua terperanjat dan segera melakukan aksi untuk memperbaiki situasi yang ada agar dampak arus kunjungan wisata ke pulau Bali dan Indonesia pada umumnya tidak menjadi menurun drastis.

Persoalan sampah adalah merupakan persoalan kita semua, bukan hanya dalam dunia pariwisata tapi dalam sektor lain sepanjang manusia itu hidup dan berada.

Sampah pasti akan terjadi dengan sendirinya, dan ini harus kita carikan jalan yang terbaik agar kita bisa mengatur dan mengolah sampah menjadi sesuatu yang berguna untuk kepentingan semua orang.

Bali dengan pantai Kuta yang sudah menjadi icon pariwisata Indonesia, dengan timbulnya masalah sampah ini, tentu saja akan mempengaruhi dampak kunjungan wisata, walaupun mungkin tidak akan terlalu terlihat drastis. Tetapi ini semua harus menjadi bahan pembelajaran bagi pemerintah dan semua sektor yang terlibat didalamnya untuk secara serius menangani sampah agar image pariwisata di Indonesia tidak menjadi rusak dan kotor oleh sampah.

Keberadaan sampah dalam satu objek wisata tidak dapat kita hindari, tapi harusnya ini menjadi perhatian yang serius oleh setiap pengelola objek wisata.

Dalam dunia pariwisata kita mengenal adanya istilah “ Community Based Development”. Dimana pengembangan suatu kawasan wisata sepenuhnya di serahkan kepada masyarakat sebagai pengelola dan menjaga keberadaan objek wisata tersebut.

Pemerintah melalui dinas Pariwisata hanya memfasilitasi dan menjembatani antara objek wisata dengan para pengunjung atau wisatawan untuk dapat datang ke objek wisata tersebut.

Dengan cara ini maka peran pemerintah dan masyarakat sangat erat kaitannya dan saling berkesinambungan, sehingga keberadaan objek wisata tersebut selain menguntungkan bagi pemerintah juga bagi masyarakat sekitar yang secara langsung merasakan adanya perkembangan objek wisata tersebut.

Indonesia sebetulnya tidak perlu merasa kuatir dengan adanya pemberitaan oleh majalah Times yang menyoalkan tentang sampah di pantai Kuta ini. Tetapi justru adanya pemberitaan tersebut harus membuat pemerintah dan masyarakat membuktikan kemampuan dalam menangani sampah sehingga yang tadinya terkesan kumuh dan kotor dapat kembali bersih dan nyaman, berkat kerjasama antara pemerintah dan masyarakat.

Sekaranglah saatnya yang paling pas untuk membuktikan kepada dunia, bahwa Indonesia bukabn hanya sebuah objek wisata saja yang menjadi kebanggaannya, tetapi lebih dari itu, keberadaan objek wisata membawa dampak positif terhadap masyarakat pada umumnya.

Solusi yang paling pas untuk mengatasi banyak timbunan sampah di pantai Kuta Bali ini, adalah dengan melakukan gerakan turun langsung ke pantai bersama-sama dengan semua unsur pariwisata di pantai Kuta dan Bali pada umumnya, untuk melakukan gerakan pembersihan sampah secara bersama-sama.

Setelah gerakan pembersihan sampah ini selesai dilakukan, barulah semua pihak duduk bersama untuk membahas solusi yang terbaik agar kejadian penumpukan sampah ini tidak terjadi kembali di pantai Kuta.

Barulah pada saat ini, semua aspek yang terlibat dalam dunai pariwisata dan para pakar serta ahli lingkungan hidup, bersama-sama merumuskan langkah yang paling tepat untuk mengatasi sampah dan mencari solusi yang terbaik untuk semua pihak.

Selanjutnya pengawasan keberadaan sampah dan juga lainnya, oleh pemerintah sebagai fasilitator menjembatani dan sepenuhnya diserahkan langsung kepada masyarakat yang terlibat langsung dengan para wisatawan sehari-harinya.

Artinya untuk dalam pengawasan agar tidak terjadi kembali adanya penumpukan sampah di pantai ini, maka peran masyarakat sangat dibutuhkan. Masyarakatlah nantinya yang akan membuat aturan dan ketentuan tentang sampah ini yang harus di pahami oleh semua pihak yang berada di pantai Kuta tersebut.

Dengan cara sepertinya, maka diharapkan orang akan segan untuk membuat sampah sembarangan, karena adanya pengawasan dari masyarakat langsung, sehingga hal ini akan membuat para wisatawan pun ikut mematuhi semua ketentuan yang telah dibuat selama mereka berlibur di pantai tersebut.

Inilah mungkin makna yang terkandung dari Community Based Development ini, dimana peran masyarakat pada akhirnya akan sangat menentukan. Pemerintah hanya memfasilitas berbagai sarana dan pra sarana untuk menunjang kegiatan tersebut berjalan dengan lancar dan baik.

Inti dari semua persoalan sampah ini, pada akhirnya adalah untuk kemajuan dan kebaikan dunia pariwisata di Indonesia dan khususnya di pantai Kuta Bali. Untuk itu masyarakat pariwisata di kota Bali pun harus terus menyadarkan dirinya bahwa keberadaan objek wisata ini selain berdampak ekonomi bagi masyarakat juga ada dampak sosial dan lingkungan, yang harus secara terus menerus diawasi dan dilindungi oleh masyarakat, dan untuk masyarakat pariwisata itu sendiri.

Penulis : alumnus STPB’ 95

Foto gambar diambil dari : stevenwilliam

 

Iklan