SEJENGKAL TANAH MEMBAWA DOSA DI AKHIRAT

Posted on Februari 10, 2009

4


Islam sebagai agama umat manusia, merupakan agama yang sempurna, dan telah menjadi dasar dalam menata kehidupan keseharian kita, namun terkadang orang lupa terhadap……Yah terkadang kita sebagi umat manusia yang juga penganut agama Islam, terkadang lupa, bahwa apa yang ada di dunia ini semua telah ditakdirkan oleh Allah, dan apa yang kita lakukan ini semata-mata karena kehendak Allah.

Banyak permasalahan yang ada disekitar kita, sebetulnya ini adalah masalah yang telah digariskan oleh Islam dan agama, dan untuk menyelesaikannya, tidak ada jalan lain selain merujuk kepada Al-Quran dan Hadits.

Ini bukan kisah sinetron yang banyak ditayangkan di televisi, yang mengisahkan kezhaliman suatu umat terhadap umat lainnya, atau ketidak taatnya manusia terhadap ajaran Allah.

Tapi ini memang ada dan terjadi disekitar kita.

Beberapa hari kebelakang, kebetulan tetangga mang, sedang melakukan pengukuran tanah untuk pengajuan sertifikat tanah.

Kasusnya seperti ini ;

Telah terjadi transaksi jual beli tanah, antara pihak pemilik tanah dengan soudara tuanya, yang masih famili juga, yang akan membeli sebidang tanah dengan ukuran kurang lebih 5,5meter x 2,4meter.

Memang bukan tanah besar, hanya tanah kecil, tapi ini menjadikan rumah pembeli tanah tambah luas, dan pastinya kondisi rumah si pembeli jadi tambah lebar juga.

Kemudian pihak pembeli, yang kebetulan tidak tinggal di sini,tapi diluar kota, sedangkan yang tinggal disini hanyalah orang tuanya saja.

Telah membuat surat pernyataan untuk mengurus pengukuran tanah dengan luas 4,5meter x 1,5meter. Harga telah disepakati, walaupun kata pihak penjual itu merasa terpaksa, karena harga sesungguhnya lebih dari itu.

Yang jadi permasalahan adalah, isi surat pernyataan dengan kenyataan tanah sebenarnya, sangat jauh berbeda.

Dalam surat pernyataan tanah yang akan diukuran adalah 4,5×1,5. Sedangkan luas tanah sebenarnya adalah 5,5×2,4. Walapun selisihnya sangat kecil, tapi tetap saja ini akan menjadi kendala bila tidak segera diselesaikan.

Bila selisih tanah yang kecil itu, juga tidak diukur, maka akan menjadi masalah dikemudian hari, dan pastinya nanti harus membuat sertifikat baru dengan luas yang kecil tersebut.

Bagi pihak pemilik tanah, hal ini tidak masalah, tapi jelas yang rugi adalah pihak yang membeli tanah. Karena akan tersisa sedikit ruang terbuka, yang kalo tidak diukur, maka nantinya dia harus membeli lagi tanah sisa tersebut dan harus pula membuat sertifikat baru untuk tanah yang tersisa tadi.

Pihak penjual merasa rugi, dan karena itu dia langsung untuk memerintahkan petugas pengukur tanah dari desa, untuk juga mengukur sampai batas yang sesuai yaitu 5,5meter.

Tapi pihak pembeli bertahan, dengan alasan, harga yang telah dipaksa untuk diterima ini, adalah untuk tanah yang tercantum dalam surat pernyataan, bila ingin sesuai dengan kondisi yang sebenarnya, maka harus ada pembayaran kembali untuk sisa tanah yang sejengkal tersebut.

Akhirnya dengan sangat terpaksa, pihak pembeli mengikuti juga keinginan dari pihak penjual, dan menerima harga yang telah ditetapkan oleh penjual, dan pengukuran dilakukan sesuai dengan kondisi yang sebenarnya, bukan berdasarkan surat pernyataan.

Apa yang bisa kita petik hikmah dari kasus tetangga mang ini?

Sebidang tanah, walaupun hanya seukuran demikian, kalo tidak diakui atau dilanggar batasan ukuran tanah, maka ini akan menimbulkan masalah antara pemilik tanah dan pembeli tanah.

Mengukur batas-batas bidang tanah, baik itu sawah, tanah terbuka, rumah kita, atau apapun juga, haruslah sesuai dengan ketentuan dan ukuran yang telah disepakati.

Walaupun pada saat pengukuran melesat hanya sekitar 5-10 centimeter saja, tetap itu sudah merupakan pelanggaran batas tanah.

Dan kalo tidak salah, dalam Islam juga telah di tentukan tentang aturan pengukuran batas tanah, serta hukumnya Haram bila kita menambahkan atau mengurangi luas tanah yang kita ukur.

Ini permasalahan yang sangat sepele, tapi ada disekitar kita. Dan pastinya juga pernah kita jumpai baik itu tetangga kita, sodara kita atau rekan kita.

Soal pengukuran tanah, selain akan membuat masalah di dunia, juga akan mendapatkan hukuman yang setimpal di akhirat kelak. Auzubillah…….

Lalu bagaimana dengan anda? Walaupun saat ini anda sudah tinggal di komplek perumahan, tetap saja harus kita buktikan tentang luas tanah yang telah kita tempati ini.

Apakah sertifikat tanah dan bangunan kita sudah sesuai dengan kenyataan? Atau justru luas tanah tidak seukuran dengan data yang ada di sertifikat.

Tentunya, apalagi itu rumah kita, kita tidak ingin menempati rumah yang ukuran tanahnya tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya menurut sertifikat.

Sertifikat adalah alat bukti sah yang diakui oleh negara tentang kepemilikan suatu bidang tanah atau bangunan, menurut hukum manusia.

Tetapi hukum yang lebih tinggi adalah pertanggungjawaban kita di akhirat kelak, bila kita mungkir terhadap ukuran tanah yang kita tempati.

Sekedar hanya untuk mengingatkan saja buat kita semua, silahkan bila ada waktu senggang, coba anda periksa lagi bukti sertifikat tanah dan bangunan anda, lalu anda coba lakukan pengukuran sendiri, secara sederhanapun tidak masalah.

Ini hanya untuk membuktikan saja, bahwa luas tanah dan bangunan yang kita tempati ini adalah sudah sesuai dengan data yang tercantum pada sertifikat.

Iklan