PRAKTEK JUALBELI DARAH

Posted on Januari 14, 2009

15


Sudah bukan rahasia lagi, kalo di negeri ini proses jual beli tidak hanya berupa barang atau jasa, tapi juga sudah merambah ke organ tubuh manusia siap untuk perjualbelikan dengan harga yag selangit, dan pastinya menuai keuntungan yang berlipat gandaPraktek jual beli organ tubuh manusia, sudah ada dan tanpa bisa kita ketahui siapa yang memulainya. Tapi yang jelas kondisi ini ada disekitar kita.

Salah satu yang paling mudah dilakukan dan sering dilakukan oleh setiap orang yang pernah melakukannya, adalah praktek jual beli darah untuk kepentingan pasien yang membutuhkan darah pasca operasi atau melahirkan atau untuk kepentingan lain.

Praktek jual beli darah ini sudah berlangsung cukup lama, dan terjadi hampir di setiap daerah di Indonesia. Dan inipun berlaku di Kabupaten Ciamis, tempat tinggal mang saat ini.

Memang belum pernah mengalami membeli labu darah untuk keperluan transfusi darah, karena untuk kebutuhan tersebut selalu dicari melalui PMI cabang Ciamis.

Walaupun terkadang di PMI sendiri stocknya terbatas, dan bahkan seringnya terjadi kekosongan stock darah, tetapi tidak dalam waktu yang lama, paling hanya sekitar satu-dua hari, atau paling lama sekitar satu minggu, sesudah itu, stock darah kembali normal.

Tapi pernah kejadian, bahwa mang sedang membutuhkan darah untuk transfusi pasien Thalasemia, kebetulan saat itu, orang yang biasa memberikan donor sedang tidak bisa karena berada diluar kota, dan juga orang yang satunya sedang ada halangan (wanita).

Maka kepaksa, mencari orang lain yang mo bersedia di donorkan darahnya untuk. Setelah selidik punya selidik dan tanya sana sini kepada orang yang ada disekitar RS juga, maka akhirnya didapat orang yang mo bersedia untuk didonorkan darahnya.

Akhirnya setelah ditunggu cukup lama, datang juga orang yang mo mang minta tolong untuk mendonorkan darahnya. Setelah sempat berbicara sebentar maka orang itu menyatakan bahwa dia dalam kondisi sehat dan sudah biasa untuk mendonorkan darahnya.

Kemudian orang ini menjelaskan tentang tarif atau bayaran sekali dia mendonorkan darahnya. Dia sudah pasang tarif Rp. 150.000,- untuk sekali donor. Tidak kurang tidak lebih, hanya segitu tadi.

Sedangkan harga resmi, kalo kita membeli darah di PMI hanya sebesar Rp. 120.000 perkantong labu. Biaya ini adalah untuk biaya pemeliharaan alat, kantong labu, serta biaya pemeriksaan yang menggunakan alat-alat laboratorium.

Pengumuman tarif ini terpasang di kantor PMI sehingga semua orang yang datang dapat melihatnya.

Tapi orang tadi yang mang minta tolong untuk mendonorkan darahnya, sudah memasang harga 150ribu untuk sekali donor darah.

Orang yang mo mang minta tolong untuk mendonorkan darahnya ini, kemungkinan besar adalah orang sekitar RS sendiri atau paling tidak yang punya koneksi dengan pegawai RS.

Karena memang mang mencari informasi untuk mencarikan orang yang bersedia mendonorkan darahnya lewat salah satu pegawai RSUD.

Ini satu hal membuktikan, bahwa pratek jualbeli darah justru dilakukan oleh orang dalam atau yang punya koneksi dengan orang dari pihak RSUD sendiri.

Jadi repot juga kalo sudah begini……….

Padahal orang yang dimintai tolong itu, boleh dibilang sudah cukup umur dan mungkin saja dia juga sudah berkeluarga bahkan sudah punya anak juga. Hanya saja pekerjaan sehari-harinya adalah sebagai tukang ojeg atau mungkin saja hanya seorang pengangguran biasa.

Mang jadi berpikir, bagaimana kalo seandainya dia juga membutuhkan darah untuk isterinya yang melahirkan, atau untuk keluarganya yang sangat membutuhkan, atau juga untuk anaknya yang karena satu sebab membutuhkan darah segera, apakah dia juga harus membeli darah kepada orang lain.

Aneh memang, bisa-bisanya dia melakukan hal tersebut, tidak berpikir bila seandainya hal ini menimpa dirinya, apakah juga dia harus membeli darah dari temennya sendiri?

Penyebab dari semua ini terjadi, sebetulnya hanya satu, yaitu faktor ekonomi. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, maka mereka tega menjual organ tubuhnya kepada orang lain, tidak memikirkan akibatnya atau berpikirana seandainya mereka juga diposisi sebagai orang yang membutuhkan darah.

Tetapi, apakah wajar hanya untuk memenuhi kebutuhan nasi di rumah, kita rela untuk mengorbankan darah kita untuk diperjualbelikan kepada orang lain yang membutuhkan?

Padahal kalo dia mau cepat kaya dengan menjual darah miliknya, sudah saja sekarang ikut pergi ke Palestina, karena disana pasti banyak orang yang membutuhkan darah, dan dia bisa menjualnya dengan harga yang lebih tinggi lagi dari menjual darah di Ciamis…….

Nah…orang-orang yang suka melakukan jual beli organ tubuh, sebaiknya mereka ikut jihad ke Palestina dan berjualan disana, pasti laku keras!

Keterbatasan persediaan stock darah di PMI dengan jumlah kebutuhan yang memerlukan darah terus meningkat, menjadi lahan yang sangat baik sebagai sebuah ladang bisnis jual beli darah manusia.

Memang yang paling cocok untuk memenuhi kebutuhan darah adalah berasal dari keluarga sendiri. Karena dengan dari keluarga sendiri, maka resiko terkena penyakit menular melalui darah akan berkurang, dan biasanya bila masih satu keluarga akan ada kecocokan dalam proses metabolisme darah didalam tubuh kita.

Tapi karena kondisi terdesak, dan pihak keluarga yang diminta tolong sedang tidak ada ditempat, atau juga sedang ada keperluan lain yang lebih penting dari kita, maka tidak ada jalan lain selain kita harus mencari orang lain yang mau mendonorkan darahnya secara sukarela, ikhlas tanpa pamrih.

Namun untuk yang satu ini, mungkin ditengah kondisi ekonomi seperti saat ini, sangat sulit dicari bahkan tidak ada sama sekali. Kalo bukan karena kesadaran dari dalam diri sendiri.

Mang sendiri pernah melakukan donor, karena kebetulan keluarga pasien tersebut membutuhkan jenis darah yang sama dengan mang, sedangkan salah satu keluarga mereka memiliki darah yang cocok untuk pasien Thalasemia mang.

Jadi akhirnya kita hanya melakukan barter saja, mang mendonorkan darahnya untuk orang lain dan orang lain juga mendonorkan darahnya untuk mang.

Ini baru namanya impas, alias tanpa ada paksaan dari manapun, asalkan kedua pihak sudah setuju, dan dengan niat untuk saling menolong, maka Insya Allah semua ini menjadi ibadah buat kita juga.

Memang, seperti yang pernah dokter bilang, setetes darah bagi mereka yang membutuhkan sangat berarti dan bahkan bisa memperpanjang hidupnya.

Sedangkan bagi kita yang mendonorkan darahnya, hanya 30cc tidak akan berasa apa-apa, karena toh kita masih tetap bisa beraktivitas seperti biasa. Karena blom ada ceritanya orang yang mendonorkan darahnya sampai meninggal dunia.

Jadi kalo demikian, apakah praktek jual beli darah ini adalah sesuatu yang wajar dilakukan ditengah-tengah masyarakat kita?

Atau kita hanya bisa berdiam diri menerima kondisi seperti ini sambil berharap ada orang yang bersedia mendonorkan darahnya secara sukarela dengan niat hanya untuk menolong sesama yang membutuhkan dan menjadikan donor darahnya itu merupakan ibadah sambil beramal.

Sulit memang, tapi itulah kenyataannya yang ada disekitar kita. Mungkin juga ada disekitar anda atau juga di seluruh penjuru negeri ini.

Darah yang ada pada tubuh kita ini adalah ciptaan Allah, hanya Dialah yang membuat semua ini terjadi. Kalopun ada untuk diperjual belikan bukan dengan arti yang sesungguhnya, paling hanya sekedar memenuhi persyaratan administrasi saja.

Wajarkah kita memperjualbelikan organ tubuh kita yang sudah Allah ciptakan untuk kita?

Iklan
Ditandai: , ,