BURUKNYA PELAYANAN RUMAH SAKIT DI CIAMIS

Posted on Januari 13, 2009

10


Sudah 4 tahun terakhir ini saya selalu akrab dengan RSUD Ciamis, karena hampir setiap 2 bulan sekali atau 3 bulan sekali melakukan transfusi darah untuk pasien Thalasemia.Celakanya semua ini sering dilakukan hanya di RSUD Ciamis. Sampai akhirnya setiap jengkal RS ini sudah hapal betul.

Dari kondisi yang serba sederhana, sekarang sudah tambah banyak bangunan baru, terakhir sekarang yang sudah selesai di bangun adalah gedung untuk IGD, dengan bangunan yang cukup megah.

Seperti biasa setiap akan melakukan transfusi darah, maka cara yang saya tempuh adalah dengan membawa pasien langsung ke ruang UGD, untuk melakukan transfusi darah

Biasanya yang pertama kali diminta adalah surat rujukan dari Puskesmas setempat, berikut data kartu Askeskin dan beberapa fotocopy data-data yang lain.

Setelah itu selesai, baru si pasien diperiksa, oleh petugas perawat atau petugas jaga (bukan dokter). Kemudian diambil sampel darah untuk diuji di laboratorium, kemudian saya diberikan resep untuk membeli beberapa keperluan transfusi.

Seperti infus, selang infus, lengkap dengan jarumnya. Setelah itu ada baru dipasang pada pasien. Maka sekarang pasien sudah terinfus cairan, tapi bukan darah.

Biasanya juga proses ini memawak waktu sekitar satu jam, atau bisa juga lebih tergantung bagaimana kelengkapan administrasi, juga kemauan dari petugas adm untuk mendatanya. Kalo mereka rada sibuk dengan berbagai catatan yang harus dibuat, maka biasanya bisa cukup lama.

Belum selesai sampai disini, karena pasien secara resmi blom diperiksa langsung oleh dokter jaga. Sambil menunggu datang dokter jaga – yang biasanya sekitar jam 09.00 atau 10 pagi baru muncul – Setelah diperiksa dokter barulah diputuskan untuk melakukan transfusi darah.

Tapi sebelum itu dilakukan, maka saya harus membuat dulu buku rawap inap sebagai bentuk administrasi dari RSUD dengan membawa surat rujukan dari UGD.

Setelah buku rawat inap selesai, selanjutnya masih harus menunggu terlebih dahulu ketersediaan ruangan untuk rawap inap. Bila ruangan kosong, maka pasien bisa langsung menuju keruangan, tapi bila ruangan penuh, maka pasien harus menunggu di UGD sampai kondisi ruangan kosong atau ada yang kosong untuk pasien rawat inap.

Karena saya sudah terbiasa, maka pada tahap ini, sebelum membuat buku rawap inap, maka terlebih dahulu saya memeriksa ke ruangan untuk mencari tempat bila ada yang kosong, khususnya untuk kelas pengguna AskesKin.

Bila ternyata ruangan kosong, maka barulah saya membuat buku rawap inap. Kemudian saya berikan kepada petugas di UGD, dan langsung aja saya katakan kalo ruangannya sudah ada, maka biasanya langsung di bawa menuju keruangan.

Setelah masuk ruangan, ternyata untuk urusan administrasi belom juga selesai, karena saya harus membuat terlebih dahulu jaminan dari AskesKin yang intinya akan menanggung biaya rawap inap pasien.

Maka saya harus kembali lagi keruangan utama untuk membuat jaminan AskesKin, biasanya bila tidak terlalu ramai, alias tidak banyak yang berobat, maka tidak terlalu lama.

Tapi karena hari ini sangat banyak yang berobat, maka proses untuk membuat surat jaminan Kesehatan dari PT Askes ini cukup lama sekitar 30 menit sampai satu jam, karena harus antri.

Setelah ini selesai, saya harus fotocopy surat Jaminan tersebut masing-masing rangkap 4, untuk semuanya saya berikan kepada petugas adm di ruangan. Dan sisanya akan saya berikan kepada petugas PMI sebagai bukti untuk pengambilan darah.

Kembali lagi ke ruangan, untuk menyerahkan surat jaminan dari PT Askes. Sampai disini saya sebut baru selesai tahap pertama.

Setelah itu selanjutnya saya harus ke PMI yang jaraknya dari RS ini sekitar 3Km. Dengan membawa persyaratan yang telah dibuat tadi di RS, kemudian saya bisa mendapatkan labu darah sesuai yang telah dipesan terlebih dahulu jauh-jauh hari sebelumnya.

Nah seluruh tahpan yang telah dijelaskan tadi bisa memawak waktu sekitar setengah hari. Kalo saja berangkat ke RS sekitar jam 8 pagi, maka sekitar jam 12 siang seluruh urusan tersebut baru selesai.

Artinya, pasien sudah berada di ruangan siap untuk melakukan transfusi darah.

Beruntung pasiennya hanya seperti ini, dimana kondisi pasien tidak terlalu lemah atau harus menggunakan kursi roda. Terkadang dari ruangan UGD menuju keruangan karena ingin cepat dan tidak terlalu lama, saya hanya berjalan kaki saja bersama pasien Thalasemia dengan selang dan botol infus yang saya pegang sendiri.

Tetapi hal ini biasanya dilakukan bila kondisi di ruang UGD tidak ada banyak petugas untuk mengantar pasien keruangan, atau juga karena sarana berupa kursiroda yang tidak ada.

Yang terkadang bikin sakit hati atau ga habis pikir, adalah bisa-bisanya petugas baik itu di ruangan ataupun di UGD masih sempat untuk menjawab SMS yang masuk ke HPnya.

Atau terkadang juga, mereka dengan tidak terlalu mementingkan pasien, kadang memberikan pelayanan yang kurang maksimal. Sering terlihat adanya beberapa kali job yang sama yang dilakukan oleh orang yang berbeda.

Mereka hanya sibuk dibalik meja administrasi mengurus berbagai keperluan dokumentasi, mencatat berbagai hal tentang kondisi pasien, sibuk membuat resep, sambil sesekali melakukan pemeriksaan kepada pasien untuk memastikan sesuai dengan catatan yang telah dibuat oleh petugas yang lain.

Kondisi ini terus berlangsung sampai menjelang pergantian shift waktu istirahat, atau tergantikan oleh petugas berikutnya.

Sementara siswa-siswa yang sedang melakukan praktek dari sekolah kesehatan, hanya berkumpul saja dengan sesama temannya, membantu sekedarnya bila disuruh oleh petugas.

Dalam hal urusan administrasipun, setelah hampir 4 tahun terakhir ini selalu berkunjung ke RSUD, ada saja sesuatu yang baru yang harus dilengkapi oleh pasien.

Celakanya setiap bagian, atau ruangan tidak memiliki satu ketentuan yang sama tentang adm ini.

Bagi anda pengguna Askeskin, bila akan melakukan rawat inap di RS, maka persyaratan yang harus anda bawa adalah ;

  • Kartu AskesKin Asli
  • Foto copy kartu Askeskin
  • Foto copy KTP
  • Foto copy Kartu Keluarga
  • Surat Rujukan dari Puskesmas asli
  • Foto copy surat rujukan dari Puskesmas

Sedangkan yang akan anda buat nanti di RS adalah berupa Surat Jaminan Pelayanan Kesehatan dari PT Askes, dan ini juga harus anda foto copy sebanyak 5 lembar, bahkan lebih.

Kelengkapan adm ini sebaiknya sudah dipersiapkan sebelum anda berangkat ke RS, apalagi bila anda berada jauh dari RS.

Yah, ini mungkin kondisi yang harus kita terima karena kita menggunakan jasa layanan dari PT Askes.

Singkatnya, kalo anda orang miskin dan sakit sehingga perlu dirawat di RS, maka bersiap-siaplah untuk mau repot mengurusi berbagai hal tentang adm, sebelum nantinya anda betul-betul ditangani oleh dokter yang merawatnya.

Inilah satu kenyataan yang terjadi di RSUD Ciamis, dimana pelayanan dan jaminan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan untuk orang miskin masih saja terabaikan, terkalahkan oleh banyaknya birokrasi yang harus dilalui oleh mereka.

Memang semuanya serba gratis, kecuali bila ada obat-obatan yang tidak tersedia di apotik RS, maka kita harus membelinya di apotik di luar RS.

Tapi karena kita gratis inilah, maka akhirnya birokrasi yang harus kita lalui juga harus banyak, dan cukup melelahkan. Dan tanpa terasa juga semua ini harus mengeluarkan biaya untuk operasional kita selama mengurus adm tersebut.

Belum lagi, sikap dan cercaan baik dari perawat, petugas RS atau juga dokter kalo kita tidak mengikuti prosedur yang mereka minta. Jangan kaget kalo ada dokter atau petugas perawat yang berbicara cukup keras atau lantang, menjelaskan kepada keluarga pasien tentang kondisi pasien atau menyuruh mereka untuk melengkapi sesuatu adm yang belum dipenuhi.

Semua ini adalah pengalaman yang pernah saya saksikan sendiri akibat sudah cukup seringnya ke RSUD Ciamis untuk melakukan transfusi darah.

Memang cukup menjengkelkan, bahkan terkadang bikin hati ingin marah dengan kondisi seperti ini. Tapi saya tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya bersabar dan menerima kondisi ini apa adanya, karena saya sadar sepenuhnya sebab saya menggunakan kartu Askeskin.

Segini saja saya sudah beruntung, karena seluruh biaya melakukan transfusi ditanggung oleh pemerintah, terutama rawat inap dan obat-obatan.

Tapi karena ditanggung oleh pemerintah inilah, maka jadinya kita harus menerima kondisi yang terbedakan dari kondisi nyata yang sering digembar-gemborkan oleh Bu Menkes……….

Buka mata, buka hati, kondisi ini hanya ada di Indonesia

Iklan