PREMANISME DI SEKOLAH

Posted on Desember 15, 2008

1


Dengan adanya kasus kekerasan yang dilakukan oleh guru kepada muridnya, maka ini menjadi keprihatinan kita semua, karena………..Lagi-lagi masalah kekerasan ini seolah-oleh tidak ada hentinya, bahkan pelakunya bukan lagi masyarakat biasa atau kelompok geng tertentu, tapi justu ini dilakukan oleh seorang guru terhadap murid-muridnya.

Sungguh setelah melihat tayangan di televisi tadi, hati ini sedih sekaligus prihatin, karena ternyata tindakan kekerasan ini justru dilakukan oleh seorang guru dihadapan anak muridnya.

Jelas ini bukan lagi sesuatu yang patut untuk dicontoh dan ditiru oleh para guru-guru yang lain. Apapun namanya, tindakan kekerasan di lingkungan sekolah tetap tidak dibenarkan.

Tapi mari kita telaah lebih lanjut lagi, mengapa seorang guru yang seharusnya menjadi contoh yang baik bagi murid-muridnya justru malah membuat suatu tindakan yang tidak mencerminkan sebagai seorang guru.

Bukan karena alasan pelakunya adalah seorang guru, tetapi kekerasan diantara sesama anak-anak sekolahpun tidak patut untuk ditiru.

Menyedihkan memang kalo pelaku kekerasan ini adalah seorang guru. Lalu siapakah yang salah dalam hal ini?

Tentu, dalam hatinya guru tersebut tidak bermaksud untuk melakukan tindakan tersebut, tapi mungkin karena kita juga harus paham bahwa guru juga adalah manusia, pasti dia melakukan itu karena khilaf dan tanpa ada rencana sebelumnya.

Mungkin saja pada saat itu, si guru sudah kehabisan akal mengatasi kenakalan anak didiknya. Karena menurut berita, guru tersebut melakukan kekerasan ini karena sudah tidak tahan akibat anak didiknya selalu ribut selama dikelas.

Memang seharusnya hal ini tidak boleh terjadi, apalagi dilakukan oleh seorang guru, apapun bentuknya tetap ini adalah salah.

Tapi mari kita review sedikit tentang profesi guru di negeri ini. Kalo mo jujur mungkin pilihan menjadi guru bukanlah suatu cita-cita yang terlalu diinginkan di negeri ini.

Kalo bukan karena memang sudah ada turunan untuk berprofesi sebagai guru, paling banter adalah menjadi pendamping guru yang bisa berinteraksi dengan anak didiknya.

Boleh dikatakan, bahwa profesi guru adalah profesi pilihan terakhir yang harus diambil oleh seseorang akibat pilihan profesinya tidak tersedia dalam lapangan pekerjaan.

Sungguh kasihan memang nasib seorang guru di negeri ini. Mungkin kalo tidak karena tuntutan kebutuhan hidup, pasti mereka akan memilih profesi lain selain menjadi guru.

Tapi kalo tidak ada guru, lalu siapa yang akan mengajari kita membaca, menulis, berhitung dan mengenal berbagai ilmu.

Disatu sisi, guru di tuntut harus profesional dalam bidangnya, tapi disatu sisi juga terkadang guru selalu menjadi objek penderita dari kepentingan yang lebih besar lagi.

Tidak jarang, guru juga mendapat tekanan dari orang tua murid, masyarakat, tapi juga guru harus terus mengabdikan dirinya untuk kepentingan anak didik mereka sehingga tanggungjawab mereka memberikan ilmu dapat terlaksana dengan baik.

Dilematis memang, tapi yah…itulah seorang guru di negeri ini……..

Tapi bukan berarti karena alasan tersebut, maka seorang guru berhak melakukan tindakan kekerasan kepada anak dididk mereka, seperti yang terjadi di salah satu sekolah SMU di Gorontalo ini.

Lalu, kalo kita perhatikan dari segi anak didik jaman sekarang, tentu sudah berbeda dengan jaman dulu. Anak-anak sekarang bisa lebih kritis, lebih kreatif, dan mereka sangat mendambakan kebebasan sebagai seorang anak-anak atau remaja.

Pergaulan mereka juga sekarang sudah berbeda dengan pergaulan anak jaman dulu. Sekarang semuanya sudah serba bebas, bebas untuk mendapatkan informasi apapun, bebas untuk memilih dalam pergaulan, dan juga bebas untuk mengungkapkan jatidirinya.

Anak-anak jaman sekarang, mereka lebih kritis, lebih kreatif dan juga lebih bebas dalam memilih pergaulannya. Hal ini tidak bisa kita bendung, karena memang sudah jamannya seperti ini, mau tidak mau kita harus menyadarinya.

Jadi pola pendekatan sekarang antara guru dengan murid, sudah bukan lagi hanya sebatas antara guru sebagai pemberi ilmu dengan murid sebagai penerima ilmu saja.

Tapi lebih dari itu, hubungan antara guru dan murid harus dapat menyeimbangi dengan kebutuhan anak-anak. Sekarang pola pendekatan guru harus lebih aktif masuk kedalam dunia anak-anak, sehingga tidak ada batasan yang jelas antara guru dan murid.

Guru, sekarang dituntut juga harus dapat memahami apa yang diinginkan oleh anak muridnya. Guru juga harus mengenal dunia mereka, termasuk bagaimana mereka bergaul dalam keseharian, paling tidak guru bisa mendekati anak muridnya dengan lebih informal.

Pendekatan seperti ini perlu dilakukan oleh seorang guru, jadi tidak hanya sekedar perintah atau tugas-tugas saja yang disampaikan, tapi lebih dari itu.

Guru harus bisa masuk kedalam dunia anak-anak sehingga penyampaian antara guru dan murid terlihat lebih hubungan sebagai teman, sahabat, kakak, bahkan juga bapak bagi mereka.

Disinilah mungkin yang berbeda pola pendekatan yang harus dilakukan oleh guru pada jaman dulu dengan perkembangan saat ini.

Biasanya bila seorang murid cukup dekat dengan gurunya dan guru juga sudah dapat di terima dalam lingkungan mereka, maka apa yang ditugaskan atau perintah dari guru, akan terlaksana dengan baik, karena mereka menyadari hubungan yang tejadi ini lebih mengena dihati mereka

Bila hal ini terjadi, maka seharusnya tindakan kekerasan yang dilakukan oleh guru terhadap muridnya tidak lagi terjadi, demikian juga murid-muridnya akan selalu respect terhadap guru-guru mereka karena kedekatan mereka yang terjalin selama ini.

Melihat kenyataan seperti ini, masih banyak PR yang harus dibenahi dalam dunia pendidikan di Indonesia ini.

Seorang guru tidak cukup hanya mengejar karier agar mendapatkan hak-haknya yang memadai, tapi juga pola pendidikan secara umum juga harus sudah mulai berubah kearah yang lebih dinamis sesuai tuntutan jaman saat ini.

Kita hanya bisa berharap semoga kasus-kasus seperti yang terjadi di SMA Gorontalo ini, tidak lagi terjadi di daerah lain, dan tidak ada lagi kekerasan yang dilakukan oleh semua pihak dalam dunia pendidikan.

Dan semoga pula, dengan telah disetujuinya kenaikan anggaran pendidikan menjadi 40% tahun depan, maka sudah tidak ada lagi alasan bahwa permasalahan yang terjadi selama ini diakibatkan kurangnya dana yang diberikan pemerintah untuk memajukan pendidikan di Indonesia

Apapun bentuknya, saya selalu respect terhadap guru-guru saya, baik di lembaga formal maupun lembaga informal, karena melalui merekalah saya bisa mencapai hari ini, bisa mengenal dunia lebih baik lagi.

Semua ini berkat pahlawan tanpa tanda jasa yang harus mendapat jasa yang berarti buat mereka.

Iklan
Posted in: ibsn, menulis