BISAKAH SEKOLAH KITA SEPERTI DI JEPANG

Posted on Desember 15, 2008

2


Sewaktu mang masih sekolah di bangku SMP dulu di SMPN 2 Bandung, pernah mengikuti program pertukaran pelajar antara Bandung dan Hamamatshu, JepangHamamatshu adalah salah satu kota dekat dengan kota Nagoya, yang kalo diibaratkan sama dengan kota Bandung pada saat itu. Program pertukaran pelajaran ini terselenggara oleh PERSADA, dan pada saat itu peserta yang terpilih dalam program kali ini ada sebanyak 40 orang dari berbagai sekolah di kota Bandung.

Selama disana, kami tinggal di keluarga orang jepang yang juga terhimpun dalam masyarakat kota yang mendukung terhadap program pertukaran pelajar ini.

Selama berada di Hamamatshu ini, kami banyak melakukan kegiatan sosial, pentas kesenian, melihat objek wisata berkunjung ke beberapa kantor atau perusahaan besar dan juga bersekolah di sekolah jepang.

Nah, sekolah di sekolah jepang yang asli di jepang inilah yang bikin menarik dan merupakan pengalaman yang tak terlupakan oleh seluruh peserta rombongan.

Walaupun disana kami hanya bersekolah selama satu minggu kurang, tapi justru inilah pengalaman yang paling menarik dan sekaligus sangat berkesan bagi semua anggota rombongan termasuk pendamping kami yang berjumlah 4 orang itu.

Hal ini dibuktikan pada saat perpisahan di hari terakhir kami bersekolah disana, kami dibuatkan acara perpisahan yang sangat berkesan, masing-masing dari kami memberikan kenang-kenangan kepada teman-teman satu kelas dan menyampaikan sedikit ucapan perpisahan tentunya dalam bahasa jepand dong………….

Semua sampai terharu dan sedih juga akhirnya, bahkan tidak sedikit diantara kami sampai harus meneteskan air mata berpisah dengan teman-teman dari sekolah ini.

Ok, itu sedikit kisah sewaktu mang ikut program pertukaran pelajar yang diselenggarakan oleh PERSADA ini, tapi sekarang mang mo bahas soal tempat mang sekolah di Hamamatshu jepang ini.

Hamamatshu adalah kota industri dimana penduduknya mungkin hampir sama dengan jumlah penduduk kota Bandung, tetapi disana sangat jauh berbeda sekali.

Tempat mang sekolah ini…duh..lupa euy apa nama sekolahnya…..adalah sekolah negeri yang sebagian besar pembiayaannya dibiayai oleh pemerintah kota.

Bukan masalah biaya yang ingin sampaikan disini, tapi adalah sekolah itu sendiri. Karena beberapa blog dari sekolah jepang itu ada juga sekolah yang lain, tetapi bentuk bangunan dan fasilitas didalamnya semua sama dari satu sekolah dengan sekolah yang lain.

Di sekolah jepang ini, yang namanya sekolah sudah lengkap tersedia berbagai fasilitas untuk kegiatan murid-muridnya.

Bangunan utama sekolah terdiri dari dua bangunan yang masing-masing bertingkat tiga atau tiga lantai. Lantai pertama untuk anak-anak tingkat satu atau smp kelas satu, tingkat dua untuk kelas dua dan terakhir tingkat tiga untuk siswa kelas tiga.

Setiap kelas terisi oleh kurang lebih tiga puluh anak. Masing-masing anak menempati bangku dan meja sendiri-sendiri. Selain itu sekitar kelasnya tersedia lemari-lemari kecil sesuai nama masing-masing yang dipergunakan untuk menyimpan berbagai buku pelajaran.

Dinding kelas dihiasi oleh berbagai seni melipat ala jepang…Origami…hasil karya anak-anak semua, ada juga beberapa karya lukis dan beberapa hasil kerajinan lainnya.

Dipojok kanan depan kelas diatasnya ada tempat untuk layar yang bisa dibuka atau ditarik bila ingin dipergunakan untuk menerangkan materi pelajaran melalui OHP. Mungkin kalo sekarang dah ganti pake projector LCD yang lebih canggih………….

Ingin tahu apa saja kegiatan mereka disekolah………..

Jam setengah delapan pagi sudah banyak anak-anak yang berdatangan kesekolah, ada yang diantar, ada juga yang jalan kaki atau menggunakan kendaraan semacam bus sekolah.

Setibanya disekolah, pada saat memasuki ruang utama, maka kita sudah bertemu dengan sederatan tempat untuk menyimpan sepatu kita dan digantikan dengan sepatu khusus untuk diruangan kelas saja.

Semua anak-anak harus melakukan ini, di ruangan yang memang khusus untuk menempatkan seperti sepatu, jaket atau juga topi dan jas hujan.

Setelah itu sekitar jam 8 pagi baru deh mulai kegiatan belajar. Guru merangkak juga sebagai wali kelas datang tepat waktu dan langsung membahas kepada materi yang akan disampaikan.

Bila diperlukan penjelasan dengan menggunakan screen, maka tinggal tarik layarnya yang ada dipojok kanan atas, dan hidupkan ohpnya, sedikit ditutup tirai jendela sehingga cahaya ohp akan lebih jelas.

Ternyata mungkin inilah yang namanya anak-anak, semua sama saja, pada saat belajarpun ada juga beberapa anak-anak yang sambil bercanda, bermain-main dan atau juga malah tidak memperhatikan gurunya.

Yah samalah seperti di Indonesia ini….tuk yang satu ini mungkin berlaku di semua negara kali yee…….

Namun pada saat sesi tanya jawab dari materi yang diberikan oleh gurunya, banyak sekali anak-anak yang mengangkat tangannya ingin bertanya, dan guru selalu memberikan jawaban-jawaban dari pertanyaan mereka dengan lugas dan dipahami oleh mereka.

Itu sedikit proses belajarnya di kelas….asyik seru, sungguh diluar dari kebiasaan belajar di Indonesia.

Menjelang siang, waktunya untuk istirahat. Tapi ternyata anak-anak tidak keluar kelas seperti kalo kita mendengar bel bunyi tanda waktu istirahat, pasti sudah buru-buru ingin keluar pergi ke kantin tuk jajan atau sekedar sarapan atau juga obrol sana-sini dengan teman teman yang lain.

Di sekolah Jepang tidak seperti itu. Pas waktu istirahat tiba, ga tau dari mana, tiba-tiba saja ada sekelompok anak-anak mungkin kelas satu yang membagikan makan siang ke setiap anak di setiap kelas.

Karena ini ada di lantai dua, maka makan siang tuk siswa di lantai dua ini dikirim melalui lift khusus untuk makanan, dan hebatnya lagi semua kegiatan ini dilaksanakan oleh anak-anak sendiri, guru hanya memantau saja terutama pada saat pengantaran makanan memastikan setiap anak sudah mendapatkan jatah makan siangnya.

Guru juga kebagian jatah makan siang, dan mereka makan bersama-sama dengan anak-anak di kelas masing-masing.

Nah kalo di Jepang ini sedikit berbeda, waktu makan pun sampai harus sama alias berbarengan semua, sehingga selesainya juga tidak terlalu berbeda.

Setelah selesai makan, maka tempat tuk makan tersebut kembali dibereskan oleh masing-masing ketua kelasnya, dan di kirim langsung ke bagian pencucian atau mungkin juga gudang tempat makanan tersebut dibuat.

Setelah itu, anak-anak bebas beraktifitas di luar kelas sampai menjelang sore hari.

Ada yang lucu, ternyata mereka juga membiasakan untuk bersikat gigi setelah makan, jadi ditempat cuci tangan, juga tersedia beberapa keran air untuk kita membersihkan gigi, atau untuk keperluan lainnya.

Siang ini dilanjutkan dengan olah raga dan ketrampilan.

Nah, ini yang pengen mang sampaikan, tentang fasilitas untuk kegiatan extra di sekolahnya.

Sekolah ini mempunyai lapang sepakbola ukuran setengah lapangan bola yang asli, kemudian ada arena untuk lari mengitari lapang bola, kemudian juga ada lapang tenis sebanyak 5 lapang ukuran dewasa semua, kemudian juga ada ruang Gym untuk kegiatan olah raga senam dan sebagainya, dan da juga ruang indor untik berbagai aktifitas indor di sekolah tersebut yang ukurannya seukuran dengan lapang bola di sekolah tersebut.

Di pojok dekat lapang bola tadi ada kolam renang yang berukuran internasional.

Semua fasilitas ini lengkap tersedia, anak hanya tinggal pakai saja. Termasuk untuk olah raga senam semua peralatannya sudah ada disana. Seperti untuk tenis lapang, semua anak sudah punya raket dengan namanya masing-masing .

Yang hebatnya gedung indor, selain untuk kegiatan olah raga seperti volly ball dan basket, juga gedung ini selalu dipergunakan untuk tempat anak-anak berkumpul mendengarkan penjelasan dari guru-gurunya. Yah…kalo di Indonesia mungkin sama dengan lapang untuk upacara begitu………

Di gedung ini juga dipake untuk acara perpisahan, sewaktu hari terakhir kami bersekolah di sekolah ini.

Ternyata seluruh fasilitas di sekolah ini, mulai dari lapang sepak bola, lapang atletik, kolam renang, lapang tenis, ruang gym, ruangan indoor, semuanya sama untuk setiap sekolah di Hamamatshu ini. Paling yang membedakannya bila sekolah swasta, pasti fasilitas lebih bagus, lebih lengkap karena adanya dukungan dana dari pemerintah dan sekolah itu sendiri.

Sewaktu kunjungan ke salah satu sekolah swasta terkenal di Hamamatshu ini, kami rombongan disuguhkan penampilan orkestrasi musik lengkap dengan alat-alatnya dan paduan suara sebagai pengiringinya.

Semua alat musik tersebut dimainkan oleh anak-anak. Kalo dihitung, untuk pengadaan alat musik seperti orkes concert ini mungkin bisa mencapai ratusan juta rupiah satu setnya.

Di Indonesia belum ada sekolah yang memiliki alat musik concert seperti kayak punya om Adie MS atau om Erwin Gutawa, walaupun tidak sekomplit punya mereka berdua.

Padahal kalo dilihat dari materi pembelajaran untuk tahun itu sekitar tahun 85-an, jelas sekali kalo di Indonesia lebih unggul di bandingkan di Jepang.

Materi pelajaran bahasa inggeris di jepang baru di berikan di tingkat 3 atau kelas tiga smp, sedangkan di Indonesia sudah diberikan sejak baru masuk smp atau kelas satu.

Tapi ini tahun 85-an, mungkin sekarang dah berubah kali yah……

Ini membuktikan, bahwa materi pembelajaran di Indonesia sebenarnya sudah cukup bagus bahkan selangkah lebih maju di bandingkan dengan Jepang sekalipun

Yang jelas pengalaman bersekolah di Jepang ini, sungguh sangat berkesan dan selalu teringat bila mengenang masa lalu. Ini semua menjadi bekal yang sangat berguna terutama buat mang sendiri dalam menambah wawasan dan pengalaman yang mungkin sulit untuk didapatkan lagi.

Yang jadi pertanyaan sekarang, bisakah sekolah-sekolah di Indonesia ini sama dengan sekolah-sekolah di Jepang sana?

Sementara ini kita masih berkutat di persoalan penambahan anggaran biaya pendidikan, sedangkan sekolah harus tetap jalan, karena tidak mungkin anak-anak harus berhenti sekolah hanya karena anggaran pendidikan dari pusat baru disetujui untuk tahun depan sebesar 40%-nya.

Iklan
Posted in: ibsn, menulis