SEBUAH CATATAN KECIL DARI TRAGEDI KECELAKAAN BUS
Dunia transportasi Indonesia, kembali di goyang dengan terjadinya kecelakaan Bus di jalan raya antara Bogor dan Bandung, yang mengakibatkan tewasnya 7 orang penumpang.
Peristiwa ini menambah panjang daftar korban kecelakaan transportasi di Indonesia. Mulai dari kecelkaan Pesawat terbang, kecelakaan kapal laut, kecelakaan Kereta Api, dan ini terakhir kecelakaan Bus kendaraan umum.
Sepertinya kecelakaan bus ini sudah hampir sering terjadi, baik yang disebabkan karena kondisi jalan yang rusak, atau mungkin juga karena kondisi kendaraan yang tidak layak untuk dipergunakan apda saat itu.
Melihat semua ini, haruslah kita instrospeksi diri, bukan saja kepada pengemudi dan awak kendaraan umum saja, tapi juga semua aspek yang terlibat di dalamnya termasuk kita sebagai pengguna jasa kendaraan umum.
Karena apapun bentuknya, apapun musibah yang terjadi, pada akhirnya yang dirugikan adalah semua pihak dan penumpang itu sendiri.
Dalam kasus kecelakaan bus di Cianjur beberapa hari yang lalu itu, kita harus dapat menelaah dengan lebih jernih lagi dan berpandangan positif terhadap musibah tersebut.
Terlepas dari apakah itu karena kelalain dari seorang supir, dan kondekturnya, kelalaian operator mekanik bus tersebut, atau memang hal lain yang kita kita pernah tahu kapan akan terjadi.
Saya sering menggunakan jasa kendaraan umum baik bus, taxi, travel, kerata api, kapal laut untuk aktifitas kegiatan saya. Secara umum saya memberikan gambaran kondisi transportasi darat utamanya bus, memang masih banyak sekali berbagai kendala yang harus kita sikapi pula dengan penuh bijaksana.
Tuntutan untuk memenuhi setoran ke perusahaan bus, dan berbanding terbalik dengan kondisi yang ada di lapangan, mengakibatkan banyak factor yang tidak diperhatikan oleh semua pihak, karena semata-mata untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari para awak kendaraan bus tersebut.
Perlu kita ketahui, bahwa tidak semua uang hasil operasional bus pada hari itu akan disetorkan sepenuhnya kepada perusahaan. Setelah dipotong biaya operasaional, biaya solar, biaya makan awak kendaraan, barulah sisanya disetorkan keperusahaan.
Namun tidak semua pula yang masuk keperusahaan akan sepenuhnya diterima oleh kas perusahaan, mereka harus pula mengeluarkan kembali dana untuk biaya perawatan bus, gaji karyawan, biaya operasional perusahaan. Belum lagi bila perusahaan harus menutupi cicilan kredit yang harus dipenuhi ke pihak bank.
Semua itu adalah jumlah tanggungan yang harus dikeluarkan oleh pihak perusahaan dari hasil kerja keras awak kendaraan di lapangan.
Kalau saja untuk trayek Bandung-Bogor dengan bus umum biasa kelas ekonomi harga tiket untuk satu penumpang berkisar antara Rp. 15.000 – Rp.25.000,-. Dengan kapasitas tempat duduk yang ada sekitar 30-60 orang, maka berapa pendapatan yang diperoleh awak kendaraan bus tersebut sudah bisa kita perkirakan.
Jadi hanya sekitar Rp. 1.500.000,-. Dengan catatan bila terisi penuh dan bila seluruh penumpang sama semua membayar seharga tersebut. Lain halnya kalo bus hanya terisi setengah, maka itu jadi masalah tersendiri bagi awak bus.
Jadi, dalam hal ini kita harus bisa memaklumi kondisi dari awak bus tersebut, dan kondisi dari perusahaan bus yang semakin hari bukan bertambah jumlah armadanya tapi malah makin berkurang akibat tidak mampu membiaya operasional bus tersebut.
Dalam hal ini saya bukan membela para awak bus dan perusahaan bus, tapi kondisi ini haruslah kita ketahui bersama sebagai bentuk kepedulian kita terhadap sarana transportasi yang murah untuk rakyak ini.
Tapi bukan berarti pula dengan alasan mengejar target setoran, factor keselamatan harus diabaikan. Ini seharusnya tidak boleh terjadi dan harus menjadi konsen yang amat serius bagi pemerintah.
Apa peran yang sudah diberikan oleh dinas terkait, dalam hal ini dinas perhubungan sebagai lembaga resmi milik pemerintah yang mengatur, dan mengelola sarana transportasi di Indonesia.
Faktor teknis dan nonteknis sangat berperan disini. Seperti pemeriksaan rutin ijin trayek kendaraan, pemeriksaan kondisi jalur utama jalan raya yang bekerjasama dengan dinas pekerjaan umum, sampai kepada pemeriksaan ijin mengemudi bagi para supir, pemeriksaan kesehatan bagi awak bus, dan yang terpenting lagi pemberantasan pungli yang banyak bertebaran di hampir seluruh ruas jalan ini.
Faktor terakhir inilah yang mungkin harus juga kita libatkan masyarakat untuk memantaunya.
Saya pernah menggunakan jasa angkutan bus dari tempat saya tinggal menuju pusat kota ibukota negeri ini. Dalam perjalan dari terminal keberangkatan, sampai menuju terminal akhir, saya mencatat ada lebih dari 10 pungutan baik yang resmi maupun tidak, yang harus dikeluarkan oleh awak bus tersebut.
Pungutan resmi mungkin hanya terdapat pada setiap terminal yang dilalui dan di tempat pemberhentian yang telah ditentukan oleh pihak perusahaan bus tersebut. Selebihnya adalah pungutan yang tidak resmi, yang mau tidak mau harus dikeluarkan oleh awak bus kalo tidak ingin busnya atau awaknya mendapat masalah dengan para preman.
Setiap pungutan jumlahnya memang tidak terlalu besar, berkisar antara Rp. 2.000,- sampai Rp. 5.000,-. Tapi kalau ternyata jumlah pungutan tersebut ada sekitar 10 buah pungutan, maka awak bus harus mengeluarkan dana operasional sekitar Rp. 20.000,- untuk sekali jalan saja.
Nah, inilah kondisi yang harus kita pahami oleh semua pihak yang sering menggunakan jasa angkutan trasnportasi umum ini. Karena memang seperti itulah yang terjadi di Indonesia ini, dan kita juga harus dapat memahaminya sebagai sebuah gejolak dari masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Para pemungut, mereka tidak akan mendapatkan uang bila tidak dengan bekerja sebagai pemungutan di jalanan. Tapi awak bus juga tidak dapat beroperasional kalo tidak memenuhi permintaan dari para pemungut tersebut.
Padahal, pada bus yang saya gunakan tadi, jumlah penumpangnya hanya ada sekitar 15 orang saja, sebagian lagi kosong hanya jajaran kursi-kursi saja.
Biaya perjalanan pada waktu itu sekitar Rp. 22.500,- / orang. Kalo ada 15 orang berarti hanya mendapatkan uang sebesar Rp. 337.500,-. Apakah uang segitu cukup untuk menutupi biaya operasional bus tersebut?
Terakhir yang ingin saya sampaikan juga, adalah kepedulian dari para penumpang sendiri yang terkada membuat awak bus menjadi tidak sabar dalam menjalankan busnya.
Karena bujuk rayu dari para calo di terminal, akhirnya penumpang mau tidak mau harus naik bus tersebut. Padahal kalo memang kita tahu bahwa bus tersebut sudah amat penuh oleh penumpang kenapa juga kita harus memaksakan diri untuk naik.
Bersabarlah, karena mungkin masih ada kendaraan lain setelah bus tersebut. Walaupun keselamatan penumpangan ada ditangan supir dan kondektur, tapi hendaknya kita juga sebagai penumpang harus mawas diri dan selalu berjaga-jaga bila sesuatu terjadi musibah yang tidak kita inginkan selama dalam perjalanan.
Dalam kecelakaan bus di Cianjur beberapa hari lalu, ada banyak factor yang menyebabkan kecelakaan tersebut terjadi. Dan ini semua tidak bisa kita lihat hanya dari salah satu sudut pandang saja, tapi harus secara menyeluruh.
Bila ternyata kendaraan tersebut sebelum keluar dari gerasi sudah diperiksa oleh para montir perusahaan, dan dinyatakan layak untuk dipergunakan pada hari itu. Tapi masih juga terjadi kecelakaan, maka siapa yang salah?
Bila kondisi phisik dari supir tersebut juga dalam kondisi yang prima alias tidak kurang tidur dan tidak dalam pengaruh minuman keras dan narkoba, tapi masih juga terjadi kecelakaan, maka itu siapa yang salah?
Bila jumlah penumpang tidak terlalu penuh, kondisi jalan juga tidak sedang dalam kondisi hujan, tapi juga masih terjadi kecelakaan, maka itu siapa yang salah?
Yang jelas dari tragedy yang terjadi ini, harus menjadi pelajaran yang berarti bagi semua pihak, bukan saja perusahaan bus, para awak bus sebagai ujung tombok perusahaan, tapi juga pihak terkait, dan kita sebagai pengguna jasa transportasi.
Terakhir, untuk para korban yang meninggal dalam musibah kecelakaan tersebut, saya dari lubuk hati yang paling dalam, turut berbelasungkawa dengan mengucap innalilahi Wainalilahi Rojiun, semoga arwahnya diterima di sisi sang maha Pencipta, dan semoga mereka yang meninggal mendapat gelar Suhada karena mereka meninggal dalam sebuah kecelakaan.
Dan kepada keluarga korban yang di tinggalkan, semoga diberikan ketabahan, kesabaran serta selalu mendapat Ridhlo dari Alla SWT dan diberikan rezeki yang berlimpah.Amin.
Untuk kita semua, jadikan kecelakaan ini sebagai sebuah contoh, bahwa kehendak Allah bisa terjadi dimana saja, kapan saja, tanpa mengenal usia dan gender. Sewaktu-waktu mungkin kita yang terkena musibah seperti itu, siapa tahu karena itu hanyalah rahasia dari sang Pencipta Alam Semesta pemilik Hidup ini.
Manusia hanya berusaha, namun Tuhan-lah yang menentukan segalanya, karena hanya Dia-lah yang dapat mengatur hidup mati kita semua.













