Sekarang ini lagi musimnya sekolah baru, baru mulai lagi tahun ajarannya. Biasanya buat menarik minat siswa, sekolah-sekolah berlomba-lomba menampilkan bidang ekstrakurikulernya agar siswa baru betul-betul merasa betah dan bisa menyalurkan bakat dan kemampuannya di sekolah yang dipilih.
Salah satu program ektra kurikuler di sekolah adalah bidang kesenian drumband atau biasa orang mengenalnya marchingband.
Memang esktra ini termasuk salah satu program esktra favorit di sekolah-sekolah. Karena melalui drumband biasanya nama baik sekolah bisa terangkat, dan dari segi popularitas pastinya lebih bergengsi.
Tidak semua sekolah memiliki drumband atau marchingband sebagai program ekstranya. Karena untuk pengadaan alat-alat drumband saja dengan kualitas buatan dalam negeri harga satu setnya bisa mencapai 15-25 juta rupiah. Itu hanya baru alat saja, belum lagi dengan costume, biaya latihan, biaya konsumsi, biaya mengikuti kompetisi dan lain-lainnya yang semuanya pasti dengan biaya sangat besar.
Jadi bisa di pastikan bila sekolah memiliki program ekstra drumband, berarti sekolah tersebut telah cukup mapan atau paling tidak sekolah tersebut menjadi favorit bagi siswa-siswanya.
Maaf, bukan berarti mengecilkan arti sekolah yang belum mapan alias sekolah dengan jumlah murid yang sedikit, tapi memang beginilah kenyataannya.
Kegiatan drumband, bagi siswa yang mengikutinya, bisa jadi merupakan sarana untuk mengembangkan bakat dan seni yang dimiliki oleh siswa. Karena dengan drumband inilah seluruh potensi seni yang ada pada siswa akan di curahkan sepenuhnya untuk kegiatan ini.
Tidak hanya itu, dalam kegiatan drumband juga ada nilai-nilai yang terkandung didalamnya sangat positif, seperti memiliki rasa kepemimpinan, memiliki sikap disiplin yang tinggi dan terlebih dari itu semua memiliki jiwa dan pisik yang kuat dalam melakukan kegiatan drumband.
Tidak jarang, pihak sekolah sangat berantusias mendukung kegiatan drumband di sekolahnya. Karena terbukti melalui drumband ini bukan saja kemampuan si anak yang di tampilkan juga adalah yang terpenting citra dan nama baik sekolah turut pula di perhatikan.
Itulah bedanya kegiatan drumband dengan kegiatan lain yang banyak menjadi program ekstra di sekolah.
Karena drumband selain langsung dilihat oleh masyarakat, juga pastinya setiap penampilan drumband selalu dinantikan oleh orang banyak. Jadi bagus tidaknya drumband tersebut akan terlihat dengan jelas oleh masyarakat, dan mereka bisa menilai sendiri dari segi mutu dan kualitas sekolah yang bersangkutan.
Mungkin kegiatan drumband ini tidak berlaku bagi sekolah-sekolah di kota besar, tapi bagi di daerah, hal ini sangat berdampak sekali bagi sekolahnya.
Dari pengalaman saya melatih drumband junior selama 3 tahun terakhir ini, jelas sekali perkembangan suatu sekolah akan terlihat dari seberapa aktifnya penampilan drumband tersebut.
Semakin sering tampil dalam berbagai event baik lomba maupun event sosial, maka semakin di kenal sekolah tersebut, yang pada akhirnya berdampak kepada semakin banyaknya murid baru di sekolahnya.
Memang belum ada penelitian yang membuktikan hal ini 100%, tapi kita sudah bisa menilai secara umum saja bahwa sekolah yang memiliki drumband pasti banyak peminat siswa barunya.
Sebagai gambaran, di daerah saya Kabupaten Ciamis, dari data yang kami miliki sampai dengan Maret 2008 ini sudah tercatat lebih dari 60 unit drumband yang tersebar di sekolah-sekolah mulai dari tingkat Taman kanak-kanak, Sekolah Dasar, SMP, SMA, Sekolah kejuruan dan lainnya.
Jumlah ini terbilang cukup banyak, walaupun belum tentu semuanya bisa bertahan sampai 2-5 tahun kedepan, karena maklumlah sumber daya manusia untuk melatih dan mengurus drumband masih sangat kurang di sini.
Potensi ini membuktikan bahwa sekolah-sekolah mulai aktif untuk menjaring siswa barunya bukan hanya dari prestasi akademik saja tapi juga melalui prestasi ekstra kurikuler di sekolah.
Sayang, pengembangan lebih lanjut tentang program ekstra kurikuler di sekolah ini tidak di garap secara serius alias asal-asalan. Namanya juga ekstra, jadi bisa diadakan bisa juga tidak diadakan.
Hal ini karena pendidikan di Indonesia masih berorientasi kepada kemampuan akademis saja, tidak seimbangan dengan kemampuan non akademis dan spiritualnya.
Ini semua bisa kita buktikan, setiap tahun bidang akademis selalu ada penambahan yang baru, setiap tahun pula program pendidikan akademis terus di perbaharui dan di tingkatkan. Sehingga muncullah standar kelulusan yang setiap tahunnya pasti bertambah tinggi nilainya.
Sedangkan bidang ekstra kurikuler, hampir tidak ada perubahan dari dulu tetap saja seperti itu. Ekstra yang ada hanya olah raga, kesenian, ketrampilan, dan komputer.
Mari kita lihat alokasi dana BOS yang diterima oleh setiap sekolah, seluruhnya adalah dana untuk akademis, baik keperluan akademis, keperluan sekolah dan gaji para guru, tapi tidak ada alokasi dana untuk eksktra kurikuler.
Setiap tahun alokasi kelas untuk siswa baru selalu bertambah, jumlah kelas terus di perbanyak. Tapi apakah ada penambahan untuk pengadaan lapangan olah raga? Pengadaan untuk alat praktek kesenian? Atau dana untuk membuat fasilitas gedung serbaguna di sekolahnya? Pasti tidak ada!
Ini semua membuktikan bahwa pendidikan di Indonesia masih berpihak kepada kepentingan akademis bukan di nilai dari seberapa mampunya siswa dengan bakat yang dimiliki.
Padahal dalam kehidupan nyata ini, kemampuan dan bakat inilah yang menjadi perhatian dari para perusahaan pencari tenaga kerja. Nilai-nilai akademis terkadang tidak diperhatikan sama sekali, karena mereka lebih menilai kepada kemampuan dalam bidang yang lain.













